Meet The Writer

My Photo
Tulisan spontan yang bukan didapat dari buku pintar, bukan kutipan dari seseorang, namun pemikiran langsung dari ke sok-tahuan saya. Tidak bermaksud membesar-besarkan atau menginjak-injak pihak lain, namun niat mengomentari hal yang menurut saya memang pantas untuk dikomentari, mungkin kamu salah satunya. Cheers!

February 14, 2011

Bicara Tentang Agama... Dari Sudut Pandang Saya

 Agama saya Islam. Tapi menurut saya semua agama yang menyembah Tuhan itu benar. Kenapa saya Islam? Selain didikan dari kecil, ini merupakan pilihan dari diri mengenai bagaimana cara saya berkomunikasi dengan Tuhan, Allah SWT. Tuhan itu satu. Dari berbagai agama, semua menyembah satu Tuhan, Tuhan yang sama, dengan penyebutan yang berbeda dengan cara sudut pandang dan cara berkomunikasi dengan Tuhan-Nya yang beragam.

Pendidikan agama itu tidak hanya seputar ilmu sejarah agama nya sendiri, namun juga harus mendidik untuk saling menghargai penganut agama lain. Saling menghargai ini yang sulit diterapkan. Kelompok agama mayoritas di seluruh dunia mana pun pasti mencibir kelompok agama minoritas. Membentuk keharmonisan antar agama saya rasa memang sulit. Di satu sisi dalam diri masing-masing sudah memiliki kepercayaan bahwa agamanya yang paling benar. Namun di sisi lain harus menurunkan ego masing-masing dengan terbuka adanya perbedaan sudut pandang dari agama lain. Sampai kini saya merasa bahwa orang yang berpendidikan lah yang mampu menjaga keharmonisan ini. Bagi orang yang tidak berpendidikan, hanya ego nya yang berbicara. Dari ego tentang agama sendiri itu yang kemudian diterapkan ke anak cucunya, kemudian melahirkan sekumpulan orang-orang yang bersifat radikal terhadap agama lain. Saya rasa karena alasan ini Ormas agama di Indonesia kelakuannya sarap.

Dari penjelasan diatas, ada satu hal mengenai jalan pikir perbedaan agama yang tidak memandang latar belakang pendidikan, yaitu perkawinan. Orang tua di Indonesia, atau diluar juga seperti itu, saya tidak terlalu ngerti, sering kali tidak memperbolehkan anaknya nikah dengan calon pasangan yang berbeda agama. Mau anaknya sudah cinta mati, atau sudah berpacaran 7 tahun tetap saja orang tuanya heboh dan mengekang anaknya seakan sang anak tidak akan dewasa. Alasannya mampu mereka jabarkan secara panjang lebar dengan bahasa yang sok pintar. Bisa karena di agama mereka sendiri melarang, kasihan pada keturunan mereka nantinya yang akan bingung mana agama yang benar, sampai karena negara kita ini melarang. Resultnya adalah calon pasangan anaknya harus pindah ke agama nya. Ingin saya tanyakan kepada mereka, "Jadi anda membiarkan calon pasangan anak anda untuk melangkahi Tuhan-Nya demi manusia?" dan "Melepas Tuhan-Nya demi ego anda?"

Mengapa membicarakan kebenaran agama itu selalu sensitif? Sebenarnya kesensitifan itu muncul karena bila kita membicarakan agama, terkesan menjadi menyalahkan agama itu sendiri. Padahal, terutama saya, membicarakan agama bukan tandanya menyalahkan agama sendiri dan orang lain, namun menyalahkan penganut nya yang membuat dunia terkotak-kotak oleh agama. Kalau dua manusia tidak dapat disatukkan karena perbedaan agama, menurut saya ini salah penganut nya. Yakin 100% Tuhan tidak akan mengkotakkan orang yang jatuh cinta karena perbedaan agama, toh sama-sama menyembah dirinya. Hanya cara nya saja yang berbeda. Manusia yang egois.

Jadi, kalau dua manusia jatuh cinta tidak dapat disatukan karena perbedaan agama, apakah agama dilahirkan untuk memisahkan manusia? Atau manusia yang mendahului keputusan Tuhan-Nya?

Bagi para orang tua yang masih belum membuka mata, tolong jawab pertanyaan saya.

0 comments:

Post a Comment