May 23, 2014

Rumah Kedua


Baru kali ini rasanya susah sekali untuk menemukan kalimat pembuka yang pas. Banyak yang ingin disampaikan tapi bingung mau mulai dari mana. Terlalu banyak moment seru yang saya ingin kalian semua tau, dan harus tau. Bahwa di tempat saya duduk sekarang ini, di gedung ini, dipenuhi oleh orang orang terbaik yang pernah saya kenal. Individu dengan karakter yang benar-benar berbeda dan rasa kekeluargaan yang sungguh kental. Membuat saya yang kini sudah sampai di ujung hari sebagai anggota nya, merasakan beban yang begitu beratnya untuk meninggalkan. 

Mungkin dari kalian pernah merasakan apa yang sedang saya rasakan sekarang. Perasaan campur aduk antara rasa sedih dan bersyukur. Sedih dengan perpisahan ini namun bersyukur bahwa saya pernah merasakan menjadi bagiannya. Di tempat inilah untuk pertama kali nya saya diberikan ilmu yang banyak sekali dan mengubah saya menjadi orang yang jauh lebih baik. Diajarkan untuk belajar mematahkan idealisme, menerima perbedaan pendapat, belajar debat yang sehat untuk mempertahankan argumen, belajar mengerti perasaan orang lain, belajar untuk survived menghadapi politik kerja, hingga belajar pelajaran penting yang tidak bisa didapat dari buku kuliah, yaitu persahabatan.  

Saya terlalu sayang kepada setiap individu dari kantor ini. Gedung tempat kerja yang sudah menjadi rumah kedua, jiwa-jiwa di dalamnya yang telah menjadi keluarga. Kalian betul-betul memberikan cerita berharga untuk saya. Bukan hanya rangkaian suka duka, namun juga memberikan bekal pengalaman yang lebih dari cukup untuk saya nanti. Kepada seluruh anggota Jl. Panjang 8A, terimakasih banyak untuk kalian semua :)

Kebon Jeruk, 4 April 2014

Keinda Fauri

March 17, 2014

Hidup untuk Dikritik

 

Saya hidup di lingkungan masyarakat yang berkelompok. Para individu yang tidak jarang untuk selalu harus bersama individu lain, merasa malu saat duduk di restoran sendirian, pasif di meeting, malu untuk speak up, bahkan takut akan kritikan. Budaya Indonesia; Secara turun-temurun diajarkan untuk bergotong royong. Dipaksa untuk percaya bahwa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Dipaksa untuk dibentuk karakter yang selalu tergantung pada orang lain.

Saat kuliah Psikologi dulu, saya ingat bahwa ada perbedaan tingkah laku yang dikeluarkan oleh masyarakat berkelompok dan masyarakat individual saat orang buta berdiri di bus yang penuh. Masyarakat individual, yang biasanya hidup di Barat, cenderung akan langsung berdiri dan memberikan tempat duduk nya. Berbeda dengan masyarakat berkelompok yang cenderung tengok kanan-kiri dulu sambil menunggu siapa yang akan berdiri duluan. Contoh ini bukanlah kebiasaan buruk, bukan tandanya masyarakat berkelompok tidak memiliki rasa kepedulian yang tinggi, namun lebih pada karakter yang terbentuk dengan sendirinya akibat anutan hidup berkelompok, yaitu malu untuk menjadi yang pertama.

Saya dilahirkan dan hidup di jaman modern, yang ternyata masyarakat di kota saya, yaitu Jakarta masih hidup sesuai dengan panutan nenek moyang dan masih belum berani untuk menjadi yang berbeda. Masih hidup bergerombol, yang menghasilkan 1 (satu) tingkah laku yang dinormalkan, yaitu bergosip. Gosip kalau diartikan ialah suatu tingkah laku memuji atau mengkritik tanpa data yang kuat yang dilakukan satu individu ke individu yang lain tanpa sepengetahuan individu yang bersangkutan. Yeah, bahasa asik nya sih : Ngomongin orang di belakang. Nah. Tingkah laku bergosip yang sebagian besar nya ialah dalam bentuk kritikan pedas terbentuk dari pola hidup berkelompok. Pola ini membentuk seorang individu memiliki rasa keingin-tahuan dan rasa kepedulian yang tinggi terhadap individu lain. Pola hidup yang membentuk seorang individu di dalam kelompoknya suka mengkritik bila ada yang berbeda. Sekali lagi deh, tidak dapat disalahkan. Gossip tidak akan bisa lepas. Shit banget kan?

How can we survive in those kind of situation

Gak ada. Beneran. Saya, dan anak anak Jakarta lain itu hidup diatas panggung. Segala tingkah laku, segala perubahan sekecil apapun, pasti ada saja yang mengkritik, entah kritikan membangun atau menjatuhkan. Kebanyakan sih yang menjatuhkan, lebih tepatnya gosip pedasss. Bukan tanda nya mereka yang bergosip itu iri dengan hidup kalian, dih jangan geer deh. Mereka itu gak ada iri-iri nya. Hanya suka berkomentar negatif saja. Kita, yang hidup didalam nya mau tidak mau belajar untuk terbiasa atas kritikan, kalau gak sih bisa stress seada-adanya. Menghindar dengan jaga image? Boleh saja, tapi lama-lama tidak menjadi diri sendiri itu cape kan? Lebih baik kita belajar untuk acuh. 

Kritik dengan polling terbanyak saat ini datang dari pergerakan kita di social media. Apa yang kita post, disitulah kritikan akan muncul. Semakin marak karena social media ialah akses termudah untuk menjadi pengintai. Saya pun selalu kepo sama post-post teman di Path & Instagram. Kemudahan ini memaksa kita untuk belajar bijak, karena dari sini kita dinilai. Entah dalam bentuk positif dan negatif, kita tetap hidup di atas panggung. Mereka melihat, mereka tidak ingin mengerti, namun mereka menghakimi. Disini kita harus terima bahwa maksud dari apa yang kita post sangat mungkin berarti menyimpang bagi orang lain. Harus terima untuk dinilai negatif. Harus terima atas summary ngaco mengenai hidup kita. Kita tidak usah membenarkan atas apa yang sudah terlanjur dinilai menyimpang. Tidak perlu menjadi insecure. Tidak perlu juga kita sampai mengelompokkan orang yang dipercaya dan tidak, karena di social media, temen dekat sekalipun bisa kok mengkritik di belakang. So, kalau kritikan itu memang akan selalu ada,  do what ever you want! Express your feeling. Teach them that people do change. Let them know when you're happy. Don't be afraid to express your blue feelings when you are need a friend to chit chat, even to express your true feelings when you are falling in love.

Let everyone knows.

January 3, 2014

Di Kala Raga Mengalahkan Jiwa



Dalam hidup yang sedang saya jalani sekarang, hal pertama yang terlihat dalam review di tahun 2013 ialah dalam hal pekerjaan. Dalam satu tahun ini saya merasakan perkembangan yang cukup membanggakan bagi saya. Banyak hal berharga yang tidak didapat dari buku kuliah, pure dari hasil pembelajaran di lapangan. Salah satu nya ialah saat saya mendapatkan extend appreciation dari client yang jelas menyatakan kepuasan kinerja saya secara pribadi dan tim, hingga mengirimkan surat apresiasi khusus kepada Deputy General Manager, yang isinya ialah pernyataan akan kepuasan kinerja kerja yang amat sangat kepada saya dan tim dalam menangani event mereka. Hal yang membuat bangga ialah karena belum pernah terjadi sebelum nya di divisi kantor saya, baru tim saya yang mendapatkan, sehingga ini bisa dinilai sebagai sebuah prestasi yang membanggakan.

Namun diantara senyuman kesuksesan tersebut ada hal yang mengganjal. Keganjalan yang muncul saat mulai me-review kehidupan pribadi yang kemudian menghasilkan suatu pikiran yang menyudutkan pekerjaan. Ternyata, hanya dalam kurun waktu satu tahun saja, saya sudah melewatkan lebih dari 2 (dua) pernikahan sahabat terdekat, lebih dari 3 (tiga) acara surprise birthday parties, belasan undangan brunch, lunch, dinner, nonton bareng, leha-leha dan moment lainnya bersama sahabat dan keluarga. Keganjalan yang menahan senyuman dan menggantikan-nya dengan kekosongan.

***

Di tahun 2013, pekerjaan mendominasi saya. Dulu sih bisa bangga ketika harus bekerja lembur, tetap bekerja saat weekend hingga tidak menghadiri acara keluarga karena harus ke kantor, seakan sibuk itu sebuah tanda kehebatan. Entah apa yang membuat saya tersadar (dan memang seharusnya sadar) bahwa tidak seharusnya pekerjaan menjadi yang utama. Pekerjaan bila didefinisikan merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menguntungkan pihak tertentu, bernilai imbalan yang memiliki dua jenis, yaitu imbalan dalam bentuk uang dan imbalan dalam bentuk karir. Imbalan uang biasanya dicari oleh pekerja yang sudah berkeluarga, sedangkan imbalan karir biasanya dikejar oleh pekerja muda seperti saya. Problema pekerja muda bila digeneralisasikan memiliki benang merah yang sama, yaitu mengedepankan karir dan mengesampingkan keluarga dan sahabat. Hal ini saya alami tanpa kesengajaan dan hanya bersifat keteledoran. Apa jadi nya hidup tanpa mereka? Keluarga dan sahabat ialah jiwa saya, sedangkan pekerjaan hanyalah raga. Kedua nya memang sama-sama saya butuhkan, namun tidak saling menjatuhkan dan mendominasi. Saat waktu pribadi dikalahkan oleh pekerjaan pada awalnya saya hiraukan dan diterima dengan ikhlas. Namun saat menjadi sebuah kebiasaan itu yang kini menghadirkan penyesalan. Terlalu banyak moment yang hilang. Sedih bila melihat foto-foto mereka tanpa kehadiran saya. Di acara besar seperti pernikahan sahabat atau liburan keluar negeri, hingga acara kecil seperti nonton bareng di bioskop atau makan ice cream sekalipun. Satu per satu moment terlewat dan saya jalani perlahan. Padahal masa dewasa muda ialah masa terindah. Dimana mayoritas belum ada keluarga yang harus ditanggung, namun sudah memiliki penghasilan tetap. Cicilan kredit dan masalah hidup masih dalam level terendah. Masa nya egois menikmati hasil jerih payah sendiri untuk diri sendiri. Saat seru nya merasakan Bachelor dan Bachelorette, kebanjiran undangan pernikahan teman, keseleboran gaji habis sebelum waktunya tanpa ada pihak lain yang keberatan, saat buat plan mendadak untuk weekend di  Bali, dan baaaanyak lagi lainnya. Saya tidak lagi ingin melihat kebahagiaan itu semua hanya dari pandangan kaca jendela kantor. Saya ingin ikut merasakan dan ikut menjadi bagiannya.

Tahun 2013 ialah tahun dimana saya merasa hebat namun lemah di sisi lainnya. Dengan pergantian tahun, saya rasa bisa dijadikan langkah awal yang tepat untuk belajar mengimbangi nya. Tidak ada yang mendominasi dan tidak ada yang dikesampingkan, semua mendapatkan bagiannya secara fair. Karena masa indah ini tidak akan bertahan lama dan akan berlalu tanpa pamit sesuai dengan perkembangan hidup. Maka, saat saya masih berada di dalam nya, akan saya lalui dan nikmati semaksimal mungkin. Sebelum masa ini diganti dengan masa problema rumah tangga dan fisik yang melemah, sebelum liburan backpackers bersama sahabat berubah menjadi liburan di hotel keluarga, sebelum berita pernikahan teman dan kelahiran anak pertama nya berubah menjadi berita duka cita, bahkan sebelum mereka terlalu terbiasa tanpa kehadiran saya. 

Apakah nanti terwujud atau tidak? Tergantung dari sebesar apa niat saya untuk mendapatkan jiwa kembali seutuhnya.