Ternyata tidak mudah untuk didaki.
Rintangan yang ada sebetulnya merupakan sebuah irama, terus bernyanyi di lagu yang sama.
Sudah beberapa kali rintangan datang, namun hampir semua tidak bisa dihindari.
Ada masanya irama itu bisa diikuti, namun didominasikan oleh lengah.
Lagu nya masih terdengar abstrak, padahal sudah cukup lama saya mendaki.
Tenaga yang tersisa terus terkuras, nafas yang dihempas hampir habis.
Apakah memang saya tidak pantas?
Mengapa puncak yang terlihat sudah dekat, kini kembali menjauh?
Angin yang semula meniup sepoi-sepoi berubah berhembus kencang seperti mengusir?
Rumput yang semula hijau kini menjadi lumpur kena hujan, mengunci kaki maju.
Semakin keatas kerikil pun semakin banyak, suara nya yang berhentakan dengan sepatu seperti bersenandung menikmati langkah yang tak bisa berpijak.
Semakin lama, irama ini seperti membentuk lagu baru.
Mungkin ia terlalu gelisah karena merasa saya tidak mampu.
Terlalu agresif seakan meminta saya untuk kembali ke bawah.
Hati ini tidak terima.
Diri ini menolak.
Susah untuk terima karena perjalanan ini sudah panjang.
Diantara alam semesta yang marah, saya mencoba berdiri diam menunggu harapan.
Saya pelajari buku panduan yang dipegang, mencoba kembali untuk mengerti.
Meminta toleransi.
Menunggu jawaban.
Betulkah saya harus putar balik ke belakang?
Apakah betul saya tidak lagi diberikan kesempatan?
Semoga suara kecil ini terdengar.
"Saya tidak mau pulang"
"Tidak mau pulang".
January 12, 2017
July 19, 2016
Ini Baru Self-Centered
Beberapa waktu lalu, saya sedang duduk sendirian sambil sruput kopi di salah satu restoran. Sebelah saya persis duduklah dua wanita yang sedang girl-talk session. Salah satu diantara mereka sedang mengeluh bosennya berumah tangga karena suami nya ternyata jauh dari yang diharapkan dan menyesal telah menikah cepat. Dia pun berandai apabila belum menikah, pasti hal-hal yang ingin di-explore tentu sudah terpenuhi semua. Teman satunya lalu menimpali bahwa orang yang sudah menikah diumurnya sekarang sangatlah beruntung karena gak merasakan susahnya menemukan calon suami. Kala itu hanya bisa diam-diam sok cuek padahal nguping setiap percakapan mereka sedetail-detailnya. Kondisi hidup mereka ini sangat bertolak belakang. Apa yang didapatkan bukan merupakan apa yang diinginkan, ibaratnya rumput tetangga selalu lebih hijau. Sebetulnya percakapan seperti ini tidak hanya sekali saya dengar. Di lingkungan saya pun ada yang seperti mereka. Mengeluh mengenai suatu keinginan yang tidak dimiliki kepada orang yang sebenarnya menginginkan apa yang ia miliki. Pembicaraan ini bisa mengalir dimana saja. Entah kepada peer group sendiri, atau hanya sebagai pembukaan percakapan dengan orang yang baru dikenal atau pun berupa postingan di social media.
Pada akun Path contoh nyatanya, saya memiliki teman yang terus mengeluh mengenai kehamilannya. Dimulai dari cerita betapa menyesalnya dia langsung hamil saat baru nikah, ngedumel "kok gini amat sih hamil gak enak bener", sampai celotehan "Ya ampun kangen minum alkohol". Padahal, saya tahu betul bahwa friend common di Path dia itu ada yang sedang struggling untuk bisa hamil. Temannya sendiri. Ibarat apabila kehamilan itu bisa dibeli, pasti berapa pun harganya akan dibayar. Belum lagi masih dalam friend common Path yang sama, ada temannya yang pernah mengalami keguguran berkali-kali. Betapa inginnya mereka bisa dijuluki "bumil", betapa susahnya untuk bisa diposisi dia. Sedangkan yang beneran hamil kerjaannya ngeluh, ngeluh dan mengeluh.
Kita sebagai manusia ditakdirkan untuk merasa tidak pernah sempurna, makanya sering mengeluh dan terus merasa kurang. Memang tidak salah, karena gimana pun juga kita di setting untuk terus mengembangkan diri, namun kepada siapa kita mengeluh yang terkadang tidak tepat.
Bercerita keluhan hidup atau "curhat" paling sering dilakukan pada Peer group sendiri, karena peer ini sudah menjadi kelompok yang sudah dipercaya sebagai wadah keluarin uneg-uneg. Namun walaupun maksud kita hanya ingin curhat, alangkah baiknya tetap melihat kondisi individu lainnya saat itu. Nah, ini yang saya lihat kepada dua wanita yang saya jelaskan diatas. Ia mengeluh mengenai kehidupan pernikahan kepada teman yang sangat ingin menikah. Dimana rasa empati nya ya? Bukan hanya dalam bentuk keluhan saja yang terkadang kita melupakan pentingnya memberikan empati kepada orang lain, namun juga masukan yang diberikan hanya atas dasar pengalaman pribadi. Misalnya: "Udah deh buruan nikah jangan kebanyakan mikir. Kayak gue aja nekat tapi malah happy", atau "Jangan punya anak buru-buru deh, ribet hidup lo nanti", atau juga "Jangan kerja di perusahaan kecil, percaya bakalan susah naik jabatan". Menjadi guru & merasa lebih expert dari orang lain itu gak bagus loh. Niat nya sih baik, agar orang ini merasakan bahagia seperti yang kita rasakan atau terhindar dari masalah yang kita hadapi. Namun, kita gak akan pernah tahu apabila orang itu jadi nikah dengan pasangannya karena mendengarkan masukan kita, eh jalan beberapa bulan kemudian cerai karena sebenernya memang gak cocok. Kita juga gak akan pernah tau apabila dia nanti punya anak ternyata sama sekali gak merasakan ribetnya hidup seperti yang kita hadapi. Bahkan, kita juga gak akan pernah tau kalau orang itu ternyata cepat mendapatkan promosi di kantornya, jadi dia gak apes seperti kondisi karir kita.
Saya tentu nya juga masih belajar untuk bisa bersikap wise agar masukan yang diberikan bukan semata dari pandangan pribadi namun dengan melihat dari kondisi dirinya. Permasalahan yang sama antara satu orang dan orang lainnya cara penyelesaiannya tidak bisa di sama ratakan sih. Harus dilihat dari pribadi dan kondisi masing-masing. Begitu juga terhadap kepada siapa kita akan berbicara. Jangan sampai saat ia lagi down, malah bercerita mengenai keluhan yang sebenarnya tidak ada apa-apa nya dengan masalah yang ia hadapi, atau mengeluh mengenai kerjaan kepada temannya yang sedang jadi pengangguran karena belum mendapatkan pekerjaan.
Semakin banyak saya melihat dan mendengar orang mengeluh kepada orang yang tidak tepat. Semakin jelas bahwa jarang sekali kita bisa menghargai apa yang telah diberikan dan cenderung terlalu fokus pada apa yang tidak dimiliki. Padahal, keluhan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita ini bisa jadi merupakan keinginan utama ataupun mimpi seseorang yang ia kejar mati-matian.
Semakin banyak saya melihat dan mendengar orang mengeluh kepada orang yang tidak tepat. Semakin jelas bahwa jarang sekali kita bisa menghargai apa yang telah diberikan dan cenderung terlalu fokus pada apa yang tidak dimiliki. Padahal, keluhan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita ini bisa jadi merupakan keinginan utama ataupun mimpi seseorang yang ia kejar mati-matian.
December 31, 2015
It's the last day of the year!
Saya ialah tipe orang yang sangat suka menikmati hari-hari penting versi mainstream, seperti tahun baru, valentine, halloween, christmas dan lainnya. Pada saat itu, orang-orang merayakannya dengan tujuan yang sama, akhirnya membuat moment yang berbeda dari hari biasa. Contohnya, Christmas dinner bersama The Yahyas (keluarga dari mama) ialah my favorite dinner of the year. Kami sebetulnya sering sekali kumpul bersama, tapi dinner yang ini berbeda dari dinner-dinner lainnya. Christmas tree, lagu natal yang dipasang, menu roast beef yang hanya ada setahun sekali, hingga bagi-bagi kado for the kids, every details membuat suasana menjadi sangat homey. Berkat film-film christmas yang identik dengan liburan dan tanggal nya yang jatuh 6 hari sebelum tahun baru membuat Christmas tidak lagi dirayakan hanya oleh agama nya, namun sudah masuk pada lifestyle di seluruh dunia. Saat Halloween pun seperti itu, ambiance nya seru banget karena sudah menjadi lifestyle untuk merayakannya dengan mengenakan kostum semaksimal mungkin. Gak ada hari lain selain hari itu yang bisa mengenakan kostum super niat tanpa diliat aneh secara berjamaah. Nah, pada saat tahun baru, suasana nya itu all-out. Tagline "A new year means a new for everything" sepertinya banyak dijalankan oleh orang-orang. Either it's a new hope, new resolution, new dream, or other things. Soalnya menurut saya, banyak orang yang mempercayai bahwa new year is like a blank book. Jadi semua orang yang merayakannya otomatis happy dan lebih friendly pada saat itu. Saat new year ini pula banyak orang yang membuat resolusi untuk setahun kedepan, termasuk saya. Maka itu di hari terakhir sebelum masuk tahun 2016, ingin saya membawa anda flashback tentang apa saja yang saya alami di tahun ini
***
Dari tahun ke tahun saya selalu merayakan NYE di tempat yang berbeda-beda, merayakan nya juga dengan tim yang berbeda-beda. Tapi khusus tahun 2015, New Year Count Down dilewati dengan nonton TV sendirian. Awalnya itu saya minta untuk diopname sehari supaya panas nya turun, karena 2 hari kemudian mau liburan bareng teman-teman yang lain, tapi apa daya besok nya dong malah divonis demam berdarah. Jadilah homses di rumah sakit selama 7 hari. Jadilah saya cuma bisa liat fireworks di seluruh negara dari layar TV. Apes nya hari-hari pertama tahun 2015 dan gagal nya liburan bareng 10 teman-teman ke Hongkong untuk new year memotivasi saya untuk membuat sebuah resolusi. Resolusi nya ialah bisa menikmati hasil jerih payah sendiri dengan foya-foya, dengan kata lain pembukaan awal tahun yang ngeselin harus dibalas dengan kesenangan selama setahun kedepan. Resolusi nya gak bagus sih sebenernya, but yeah, sedih loh rasanya saat harus face the fact bahwa hampir seluruh teman dekat liburan bareng tanpa saya. It still hurt though, karena liburan ini sudah direncanakan dari jauh hari dan kapan lagi bisa kumpul ke luar negeri bareng dengan segitu banyak nya orang? Apalagi saya yang tiap hari search apartment di airbnb, niat ngajak meeting untuk nentuin apartment mana yang mau diambil, sampai ngobrol telpon-telponan sama pemilik apartment nya untuk nentuin tempat meeting point disana. Emang udah apes aja sih masuk Rumah Sakit H-2 sebelum berangkat. Jadilah di tahun ini saya khusus kan sebagai tahun untuk bersenang-senang. Liburan dan shopping. Buset gak pernah sesering ini pergi liburan dalam setahun dan gak pernah saya belanja seboros ini. Ada masa nya selama 1 bulan penuh weekend gak di jakarta. Berangkat jumat after office hour, pulang minggu last flight. Sampe receptionist kantor udah biasa kalo saya titipin koper di hari jumat. "Brangkat kemana lagi mba?", selalu gitu pertanyaannya.Berkat resolusi ini saya jadi kenal dengan orang-orang baru dan punya lingkungan baru. Pokoknya saya lalui dengan having fun sebisa mungkin. Gong nya sih saat pertengahan tahun ke Europe. Yes. Pertama kali nya saya menginjakkan kaki disana. Banyak dari kalian sudah biasa bolak-balik Europe or Amrik, tapi untuk saya yang harus nabung liburan pure dari uang sendiri, it was a dream come true. Sesuai dengan resolusi foya-foya, dari Januari setiap bulan setengah gajian di sisihkan untuk langsung tukar ke Euro, karena saya ingin menikmati liburan disana dengan enak-enakan. Gak mau yang udah sampe sana tapi kere. Jadi mau belanja apa aja terserah, mau makan mahal juga ayo aja. Boleh lah sekali-kali nya saya belanja or pesen makan tanpa mikir harga. Mumpung belum ada yang harus ditanggung, masih lajang bisa berbuat apa aja. Saya mikirnya sih "kapan lagi kalo gak sekarang?". Resolusi ini pula yang membuat saya sedikit abnormal, berasa duit gak berseri. Saya rela tiap hari bawa bekal ke kantor demi bisa liburan keluar Jakarta saat weekend. Pokoknya beneran dilewati maksimal untuk liburan dan belanja. That's it.
Nah, hari ke-365 di tahun ini saya melakukan evaluasi diri. Flashback kembali tentang apa saja yang sudah saya lakukan. Beneran loh setelah dipikir-pikir resolusi dijalani dengan niat, hajar terus tanpa jeda. Kalau inget jumlah uang yang dikeluarkan memang jadi ada rasa penyesalan. Tapi saat mengingat memories yang dihasilkan dari perjalanan resolusi ini memang worth it untuk dilalui. Boleh lah di masa dewasa muda sekali aja selama setahun full hambur-hamburin duit. Walaupun diperjalanan saya merasa sedikit diluar batas, apalagi inner circle saya sampai merasa saya condong berubah menjadi lebih acuh, lebih seenaknya, dan seru dengan dunia sendiri. Tapi gimana pun juga, that's not my "real-me", ini hanya proses perjalanan sebuah resolusi yang dibuat atas dasar balas dendam. Di tahun 2016, resolusi nya tentu berbeda dengan tahun ini, karena resolusi berikutnya dibuat tanpa dibalut emosi.
Overall, dengan resolusi aneh saya yang ternyata bisa tercapai, tahun 2015 menjadi tahun terbaik saya hingga saat ini. Tahun ini dilalui dengan perasaan puas yang amat sangat. Pengalaman liburan dan belanja seenak jidat gak akan bisa saya lupakan. Pelajaran pentingnya pertemanan yang saya lalui akibat obsesi sebuah resolusi merupakan sepenuhnya proses pendewasaan. Ditambah tahun ini diakhiri dengan something that makes my heart smile. Saya bingung sih jelasin nya karena susah untuk deskripsikan, but yes, that is you Tara.
January 7, 2015
Mereka yang Tak Beruntung
Banyak yang belum terwujud, masih banyak hal yang ingin diraih, banyak pengetahuan yang ingin di mengerti, banyak tempat yang ingin dikunjungi. Terlalu banyak hal lainnya yang tidak kunjung habis untuk dikejar. Ini yang disebut mimpi. Sudah seharusnya mimpi tidak habis, tidak pernah puas, namun tetap terbatas. Untuk menyukuri sejenak apa yang sudah hadir, sebelum disibukkan kembali untuk melihat kedepan dan terlanjur tidak menikmati apa yang sudah menjadi bekal.
Sering saya menoleh kepada seseorang. Termengu oleh hidup yang ia miliki. Seperti tanpa usaha untuk meraih, mendapatkan apa yang ia tuju, bisa menikmati hidup. Enak sekali rasanya. Hidup seakan berjalan lurus tanpa belok. Apa yang saya mau, ia punya. Apa yang saya kejar, ia dapatkan. Dibalik buaian ini saya tidak tersadar, bahwa seseorang yang saya puja itu ternyata balik menoleh kepada saya, dan berharap untuk memiliki apa yang saya miliki. Apa yang sedang terjadi dalam hidup saya, ternyata ia berharap memiliki warna hidup yang saya punya. Dibalik ketidakpuasan saya, ternyata ia ingin menjadi saya. Saya terus berpikir kok bisa ya? Dari keseluruhan apa yang sudah ia genggam, ia bisa bisa nya terdiam termenung iri melihat hijau nya warna hidup saya kini.
Saya jadi tersadar, dibalik ketidak puasan saya akan hidup, untuk apa saya terus bergumam? Terus merasa kurang, padahal ada orang yang merasa saya sempurna. Insecure karena kurang pengetahuan namun sebetulnya ada orang yang merasa saya pintar. Saya jadi berpikir, apakah saya terlalu mendorong diri untuk maju? Terus mengeluh, terus merasa kalah. padahal bila ditarik ke belakang, apa yang sudah diraih ternyata lebih dari cukup. Saya merasa terpasung oleh mimpi. Tidak berterimakasih atas diri yang sudah membawa jalan hidup seperti sekarang. Dikelilingi oleh orang-orang terbaik, dibalut indahnya kebersamaan, tidak pernah dibiarkan sendiri, penuh dengan senyuman. Ternyata, tidak semua orang mendapatkan apa yang saya dapatkan. Susah memang untuk menyadari bahwa hidup yang kita gores sekarang ini sudah jauh dari berwarna. Jauh dari angan-angan dan mendekati sempurna. Terus merasa kurang, namun sebetulnya sempurna di mata orang.
Saya jadi tersadar, dibalik ketidak puasan saya akan hidup, untuk apa saya terus bergumam? Terus merasa kurang, padahal ada orang yang merasa saya sempurna. Insecure karena kurang pengetahuan namun sebetulnya ada orang yang merasa saya pintar. Saya jadi berpikir, apakah saya terlalu mendorong diri untuk maju? Terus mengeluh, terus merasa kalah. padahal bila ditarik ke belakang, apa yang sudah diraih ternyata lebih dari cukup. Saya merasa terpasung oleh mimpi. Tidak berterimakasih atas diri yang sudah membawa jalan hidup seperti sekarang. Dikelilingi oleh orang-orang terbaik, dibalut indahnya kebersamaan, tidak pernah dibiarkan sendiri, penuh dengan senyuman. Ternyata, tidak semua orang mendapatkan apa yang saya dapatkan. Susah memang untuk menyadari bahwa hidup yang kita gores sekarang ini sudah jauh dari berwarna. Jauh dari angan-angan dan mendekati sempurna. Terus merasa kurang, namun sebetulnya sempurna di mata orang.
Disadarkan nya saya dari mata orang lain. Bahwa sejauh apapun mimpi ini, apa yang sudah dilewati harus dinikmati, karena siapa yang tidak bersyukur, sebetulnya mereka lah orang-orang tidak beruntung.
January 4, 2015
Hello 2015
I'm back!!
Happy new year 2015! I've got a story to tell. This end of 2014 saya dengan 9 temen lainnya brangkat liburan bareng. Ide liburan ini sudah direncanakan dari jauh jauh hari sebelum nya. Ketebak, I'm the planner, so I was arranging this trip 3 months before. Suka duka banget banget bikin plan liburan begini. Dimulai dari ngajak anak-anak meeting yang pembahasan meeting nya tong kosong nyaring bunyi nya namun selalu berakhir dengan big hung-over, cari apartment yang ternyata lebih susah dari cari jodoh. Harus jeli browsed lewat Airbnb untuk dapat range kualitas & harga yang pas. Yang satu mau yang ini, yang satu mau itu kembali tong kosong nyaring bunyinya dan ujung-ujung nya dipilih yang paling mahal juga. Sampe arranged final meeting untuk ngomongin NYE nya mau ngapain tapi kali itu saya udah keburu hopeless, karena cerita meeting nya ini lagi ini lagi. Yang heboh saya, yang lain buka botol trus lupa kalo lagi meeting sampe besok pagi nya ada yang text "Jadi intinya NYE kita mau ngapain?"
Tapi dibalik keribetan itu semua, yang nama nya liburan bersama teman ujung nya akan menjadi momen yang seru banget. Pelepas lelah dari semua beban di badan. Bayangkan setelah berbulan-bulan badan di paksa untuk bekerja di belakang meja kantor, meeting sana sini, dimarahin bos kanan kiri, liburan akhir taun sudah lebih dari cukup menjadi kunci jawaban untuk me-refresh badan kembali. Ngirit bareng, perasaan campur aduk antara over excited dan bingung nasib post holiday sebulan kedepan mau makan apa, sudah kami pikirkan bersama. Mulai hunting baju-baju lucu, mulai fashion show sendiri di kamar sampai tuker-tuker dollar. Akhirnya, notes "YES HONGKONG" itu pun semakin di depan mata dan menunjukkan 48 jam lagi menuju kesana. dan disaat itu pun, bersamaan dengan kalimat "Really can't wait for our holiday keeeeii!!" tepat sasaran, sadistis, tanpa basa basi, to the point.... bahwa saya di vonis demam berdarah.
HOLIDAY MY ASS.
May 23, 2014
Rumah Kedua
Mungkin dari kalian pernah merasakan apa yang sedang saya rasakan
sekarang. Perasaan campur aduk antara rasa sedih dan bersyukur.
Sedih dengan perpisahan ini namun bersyukur bahwa saya pernah merasakan
menjadi bagiannya. Di tempat inilah untuk pertama kali nya saya diberikan ilmu
yang banyak sekali dan mengubah saya menjadi orang yang jauh lebih baik. Diajarkan
untuk belajar mematahkan idealisme, menerima perbedaan pendapat, belajar debat
yang sehat untuk mempertahankan argumen, belajar mengerti perasaan orang lain, belajar
untuk survived menghadapi politik kerja, hingga belajar pelajaran
penting yang tidak bisa didapat dari buku kuliah, yaitu persahabatan.
Saya terlalu sayang kepada setiap individu dari kantor ini. Gedung
tempat kerja yang sudah menjadi rumah kedua, jiwa-jiwa di dalamnya yang telah
menjadi keluarga. Kalian betul-betul memberikan cerita berharga untuk saya.
Bukan hanya rangkaian suka duka, namun juga memberikan bekal pengalaman yang
lebih dari cukup untuk saya nanti. Kepada seluruh anggota Jl. Panjang 8A, terimakasih
banyak untuk kalian semua :)
Kebon Jeruk, 4 April 2014
Keinda Fauri
Subscribe to:
Posts (Atom)