Harimau Jantan ini suka sekali dengan tantangan. Ia selalu ingin menang. Hidupnya keras. Tidak ada yang mengerti dirinya termasuk dirinya sendiri. Ia membenci dirinya. Banyak yang membenci dirinya. Teman perkumpulannya pun bermuka dua kepadanya. Hanya rasa iba dan takut ia akan mematikan dirinya sendiri. Kelakuannya yang menyebabkan ia membenci bayangan dirinya sendiri. Seekor harimau betina termasuk didalam tantangannya. Namun ketika ia sudah merasa menang, ia pun pergi tanpa kejelasan dan mencari tantangan lainnya. Ia hidup dalam balutan masa lalu. Masa lalu yang menenggelamkan masa kini dan masa depannya. Masa lalu yang memblok dirinya untuk berkembang. Masa lalu yang dirasanya merupakan masa lalu terberat dibandingkan harimau jantan lainnya. Sampai suatu hari nanti, harimau jantan ini ditemukan sudah berbangkai. Terbelenggu oleh keinginan dari masa lalunya yang tidak tercapai.
May 4, 2011
Kronologis Sang Bangkai
Harimau Jantan ini suka sekali dengan tantangan. Ia selalu ingin menang. Hidupnya keras. Tidak ada yang mengerti dirinya termasuk dirinya sendiri. Ia membenci dirinya. Banyak yang membenci dirinya. Teman perkumpulannya pun bermuka dua kepadanya. Hanya rasa iba dan takut ia akan mematikan dirinya sendiri. Kelakuannya yang menyebabkan ia membenci bayangan dirinya sendiri. Seekor harimau betina termasuk didalam tantangannya. Namun ketika ia sudah merasa menang, ia pun pergi tanpa kejelasan dan mencari tantangan lainnya. Ia hidup dalam balutan masa lalu. Masa lalu yang menenggelamkan masa kini dan masa depannya. Masa lalu yang memblok dirinya untuk berkembang. Masa lalu yang dirasanya merupakan masa lalu terberat dibandingkan harimau jantan lainnya. Sampai suatu hari nanti, harimau jantan ini ditemukan sudah berbangkai. Terbelenggu oleh keinginan dari masa lalunya yang tidak tercapai.
March 1, 2011
Mendadak Anak Kos
Tahun 2006. Saya masuk universitas di UI Depok. Biar berasa jadi anak kuliahan dengan kesederhanaannya saya pun memilih untuk mencari kos-kos an. Sempat pula saya putus asa dan memilih untuk pulang-pergi naik mobil aja karena ternyata semuuuuuaaa kos yang saya temui WC nya JONGKOK. Anak mami nih. Banyak mau. WC harus duduk dan kamar full AC. Ditemuilah tempat kos yang menyanggupi kriteria saya. Tapi jalan kaki dari kos ke kampus 15 menit + nyebrang jalan. Lah gua mana bisa nyebrang? Solusinya jadilah si Selene Siregar anak baru juga yang baru saya kenal "setan-setanin" untuk kos di tempat saya juga karena WC dan AC itu mutlak adanya. Kalau masalah nyebrang jalan saya masih bisa pinjem tangan orang, nggak peduli mau tangan tukang parkir sekali pun. WC, AC, teman nyebrang: sudah terpenuhi. Ternyata si Selene mengajak 1 teman lagi untuk kos di tempat saya. Cindy, keturunan Chinese. Selene campuran Jerman. Saya, Indonesia tulen. Lucu kalo dilihat jalan bareng.
Tuhan memang sayang sama saya. Tempat kos itu tepat bersebelahan dengan rumah tante yang sebenernya, baru tahu namanya saat mama minta tolong dia untuk menjaga saya selama di kos. Hasilnya? Tiap pagi makanan enak dianter untuk sarapan. Namun ternyata masih ada kendala. Kos tidak ada pembantu seperti dirumah yang bisa beresin tempat tidur, nge pel, dan sikat kamar mandi. Selene & Cindy sih mandiri. Tapi mereka menolak untuk membersihkan kamar mandi saya juga (ya iyalah). Dasar anak manja, saya bayar deh si Emak. Panggilan sayang kita pada penjaga kos yang badannya BESAR. Bukan gendut, tapi besar. Yes. Lebih seram dari satpam. Lebih galak dari ibu tiri di sinetron. Tapi baiknya bukan main sama kita, terutama sama saya. Money talk. Tiap minggu kamar saya bersih dan wangi. Tidak jarang juga cemilan mampir ke kamar saya.
Pertemanan saya, Selene, dan Cindy menjadi semakin erat. Kita menjadi saling mengerti satu sama lain. Yang ingin saya sampaikan sebenernya: mereka sudah sangat mengerti saya. Setiap saya teriak dari dalam kamar, kadang Selene datang refleks bersama dengan sapu. Bukan untuk bersih-bersih, ingat dia sahabat bukan pembantu. Tapi saya itu jijik banget sama kecoa dan cicak. Dia tahu benar pasti saya minta dia usirin atau bunuh. Hebat kan? Kadang saya jahat juga ketika posisi dia sudah diluar kamar dengan cicak di sapunya saya tutup juga pintu nya supaya cicak nggak masuk lagi. Cindy, otak nya memang luar biasa siap men tutor saya kapanpun saya minta.
Pertemanan saya, Selene, dan Cindy menjadi semakin erat. Kita menjadi saling mengerti satu sama lain. Yang ingin saya sampaikan sebenernya: mereka sudah sangat mengerti saya. Setiap saya teriak dari dalam kamar, kadang Selene datang refleks bersama dengan sapu. Bukan untuk bersih-bersih, ingat dia sahabat bukan pembantu. Tapi saya itu jijik banget sama kecoa dan cicak. Dia tahu benar pasti saya minta dia usirin atau bunuh. Hebat kan? Kadang saya jahat juga ketika posisi dia sudah diluar kamar dengan cicak di sapunya saya tutup juga pintu nya supaya cicak nggak masuk lagi. Cindy, otak nya memang luar biasa siap men tutor saya kapanpun saya minta.
Disini saya merasa beruntung. Tuhan tahu betul saya manja nya seperti apa. Dikirimkanlah orang-orang ini untuk membantu saya. Namun akhirnya satu hal saya pelajari dari kos disini: menjadi orang yang sangat berani nyebrang jalan. Selebih nya? Sama saja.
February 7, 2011
Labeling
"Hidup glamor memicu seseorang menjadi selektif memilih teman berdasarkan apa yang ia miliki"
Khususnya pada wanita. Begitu ia diperkenalkan oleh seseorang, obrolan akan berlanjut bila orang itu menenteng tas mahal. Hermes, Chanel, Balenciaga, Alexander McQueen Novak, Fendi, Louis Vuitton, Prada, dan sejenisnya.
Keinginan untuk diakui sebagai kelompok "atas" membuat perempuan haus untuk membeli tas dengan brand yang mewah. Labeling, sebuah kata yang sangat berperan di lingkungan sosial. Membentuk seseorang untuk mengejar labeling tertentu untuk dikenal orang. Di lingkungan saya bergaul, sering kali orang disekitar yang saya belum dan sudah kenal memilih labeling atas dirinya sebagai "orang kelas atas". Tas branded adalah hal yang paling utama. Saya sangat mewajarkan untuk orang-orang yang selalu mengejar tas branded, karena tas dengan brand yang mahal itu dari segi model hingga kualitasnya sangat memuaskan. Saya kalau ada duit lebih, pasti akan memilih tas Chanel dibandingkan tas Topshop. Namun bukan kualitas yang ingin saya angkat disini, melainkan tas branded yang selalu berhasil mengangkat reputasi seseorang. Seorang wanita yang menenteng tas Hermes Birkin (versi asli tentunya) akan lebih dilihat orang lain dibandingkan wanita yang menenteng tas yang ngga jelas brand nya. Sedih lihat kondisi seperti ini? Ini fakta. Saya hidup di Jakarta sehingga saya melihat dari segi wanita muda di Jakarta, saya tidak tahu kalau diluar negeri seperti apa kondisinya. Tentu tidak semua wanita muda di Jakarta seperti ini. Hal ini terjadi hanya di tempat pusat kota anak Jakarta bergaul. Potato Head, Loewy, Dragonfly, Social House, Jack Rabbit, dan sejenisnya. Tempat-tempat ini isinya minuman-minuman dengan harga kelas atas. Mereka men-set tempat itu untuk didatangi kaum kelas atas. Dari harga dan tempatnya yang high class, yang suka bersosialisasi dengan menguras uang akan menyukai tempat ini.
Labeling, sekali lagi berperan penting untuk orang-orang yang suka bersosialisasi di tempat mewah. Semua orang mengejar labeling tertentu. Hal yang saya sesali adalah, orang-orang yang yang berada di kelas atas dan kelas sok atas memilih teman berdasarkan latar belakang keluarnya, tas yang ia pakai, mobil yang ia punya, jam tangan yang ia miliki, dan perlengkapan lainnya. Untung teman saya nggak ada yang seperti itu. Ada sih yang "ingin" seperti itu tapi toh dia tetap mau temenan sama saya yang nggak selalu pakai barang mewah. Waktu saya kehilangan tas di Blowfish beberapa bulan lalu, selagi heboh seluruh security dan teman saya mencari hingga ke pelosok ujung meja, muncul seorang cewe yang temen nya temen saya. Cantik, rambut bagus, tas Gucci (sudah kebaca dia tipikal anak pengejar labeling "atas"), menghampiri dan bertanya "Tas nya hilang? Merek apa sih emangnya?". Saya menjawab ngasal "LV paling baru gue baru beli". Dengar saya bilang gitu dia langsung heboh. Padahal tas yang ilang saya cuma beli $5, barang sale di Perth. Setuju nggak kalau dia secara nggak langsung minta ditendang kaki nya pake heels dan dijambak sampai pitak? Situasi seperti itu pun masih ada labeling penting atau tidaknya tas itu hilang. Kalau kalian suka ke tempat-tempat yang saya sebutkan diatas, pasti sering lihat orangnya. Saya juga sering lihat, sampai sekarang masih sapa menyapa kalau ketemu dan kadang ngobrol basa basi. Tapi dia, untuk jadi teman saya? Tidak akan. Dia terkenal memilih teman berdasarkan status sosialnya, semakin tinggi, semakin ia terima. Saya, memilih untuk menjauhi orang dengan kriteria milih-milih teman model seperti itu. Kampungan, kayak orang kaya baru dan noraknya maksimal. Bukan dia saja, banyak yang saya temui seperti itu.
Pekerjaan? Selevel sama saya. Duit banyak darimana? Orang tua.
Trus dependent kayak gitu lo banggain?
Hhhhhh.
Hhhhhh.
December 13, 2010
Orang Kampungan Bukan Berasal Dari Kampung
Kata kampungan itu awalnya digunakan orang kota untuk meledek orang kampung masuk kota. Keluguan orang kampung dengan perbedaan suasana kampung dan kota membuat mereka kebingungan sendiri dan cenderung dianggap "norak" oleh orang kota. Padahal, orang kota masuk kampung juga norak nya akan sama. Stigma mengenai orang kota lebih tinggi derajatnya dari orang kampung membuat kata kampungan itu terkesan rendahan. Padahal konotasi nya itu menjurus pada orang yang linglung dengan suasana baru. Beda suasana dan beda kebiasaan (tata krama, tata bahasa, dan lainnya). Dua hal yang membuat orang kebingungan.
Dari kebingungan dan kebiasaan yang sulit diubah ini membuat kata kampungan menjadi kata umum untuk meledek orang. Kata baru versi orang kota untuk merendahkan orang lain yang secara tidak langsung membuat perbedaan status sosial menjadi lebih jelas. Untuk segala hal yang diluar batas normal masuk dalam kategori kampungan. Sampai hal kecil seperti volume bicara yang kelewat besar pun bisa disebut kampungan. Kata ini mengalami pergeseran makna. Kampungan bukan lagi orang kampung tapi orang kota yang bertindak abnormal.
Saya salah satu yang menggunakan pergeseran makna dari kata kampungan itu. Saya tidak bermaksud mengatai orang kampung. Orang kampung itu orang yang tinggal di kampung. Orang kampungan itu ya contohnya kayak orang-orang yang suka pake tas Hermes palsu. Lebih jelasnya: Orang kampung bukan kampungan dan Kampungan bukan orang kampung. Dua hal yang berbeda walaupun bentuknya hampir sama.
Sebenarnya saya gatel banget untuk jabarin siapa aja orang-orang yang kampungan. Tapi kalau saya jabarkan secara jelas, gantian dong saya yang kampungan?
Sebenarnya saya gatel banget untuk jabarin siapa aja orang-orang yang kampungan. Tapi kalau saya jabarkan secara jelas, gantian dong saya yang kampungan?
November 22, 2010
Berada Di Pinggir? Memang Bisa?
Saya mengenal diri sendiri secara mendalam, ditambah ketika saya sudah 4 tahun menjalani kuliah di Psikologi, pengenalan mengenai diri itu semakin kuat. Karakter dan sifat saya ketahui mendalam bukan akibat membaca buku yang sebesar otak Einstein, namun dari sesama mahasiswa-mahasiswi yang bersama-sama ingin mengerti mengenai karakter manusia. Di lingkungan Psikologi, semua mahasiswa dituntut untuk melihat latar belakang dari segala bentuk karakter yang ada. Kenapa dia begini karena dibesarkan oleh orang tua yang menomer duakan dia, kenapa ia begitu karena terbiasa dijadikan pusat perhatian. Pengasahan itu yang memulai mahasiswa mahasiswi Psikologi jadi suka sok-sok an mengerti karakter saya. Tapi dari sok-sok an nya itu hampir semua benar. Hebat memang.
Satu yang perlu digaris bawahi adalah: saya selalu berusaha untuk jadi pusat perhatian. Orang lain mungkin ngga mau mengakui ini. Tapi saya tahu ini sebenarnya kekurangan. Di perkuliahan, saya bertemu dengan orang-orang yang lebih dominan dibanding saya. Padahal saya itu dominannya luar biasa, tapi entah mengapa selama kuliah itu saya sering ngalah apalagi dalam perdebatan mengenai tugas kuliah. Saya suka jadi pusat perhatian, namun saya paling takut dibilang sok tahu. Saya pun tahu otak saya tidak seberapa untuk memperdebatkan permasalahan dengan bahasa sok pintar. Maka itu ketika ego saya sedang mencoba meraih jadi pusat perhatian, tiba-tiba entah stimulus apa yang membuat saya akhirnya mengalah. Tugas kelompok, merupakan salah satu ajang pemilihan siapa anggota yang lebih pintar dan siapa yang tidak. Saya sedikit tidak percaya diri mengenai kepintaran. dalam menghafal. Saya tahu batas kepintaran saya dan saya tahu kepintaran saya di bidang apa, maka itu segala organisasi dari sekolah hingga kuliah saya jalani. Masuk pada tugas kelompok, saya paling sering diam. bla bla bla ansjdhfgeheeiiee blabla blablablablablabala.. Bacot. Saya ngga ngerti mereka ngomong apa. Paling sering terjadi itu salah satu sahabat saya jelasin dengan bahasa yang lebih bisa dimengerti oleh saya. Mengalah untuk jadi pusat perhatian ketika tugas kuliah memang lebih tepat dibandingkan saya ngoceh panjang lebar dan ujung-ujungnya salah. Jadi, saya koreksi kalimat "selalu berusaha untuk jadi pusat perhatian". Maksud saya itu "hampir selalu".
Selain hal diatas, saya itu egois, galak, emosian, kalo ngomong blak-blakan, dan lainnya. Segala kekurangan saya, kecuali kekurangan saya dalam menulis, hampir semua sudah saya ketahui. Setiap ke-egoisan saya timbul, sebisa mungkin saya redam. Terkadang gagal, tapi sering saya tahan. Orang yang sudah terlanjur mengecap saya sebagai orang yang ngga mau kalah kadang ngga nyadar usaha saya untuk menahan hal itu tuh seperti apa. Saya itu sering ngalah. Tapi mungkin ngga gitu terlihat atau emang selalu gagal dimata teman-teman. Atau juga memang keinginan saya selalu disetujui orang sekitar. Jangan lihat saya sebagai orang yang amat terangat sangat tidak mau kalah. Saya memang seperti itu tapi saya selalu coba untuk kontrol. Setiap pembincangan mengenai "mau kemana","ini duit siapa","bagusan pake ini atau itu" yang dimana omongan saya tidak dijadikan result, disitulah saya mengalah. Karena saya tidak pernah kalah.
Secara keseluruhan, anda bisa nilai, bisakan saya untuk berada di pinggir?
October 31, 2010
Bagaimana Bisa Begitu dan Kenapa Jadi Begini
Saya penasaran dengan batas-batas pertemanan. Ada grup yang dari awal bentuk sudah punya beberapa rules yang harus dituruti. Contohnya, "teman selalu menjadi nomor satu", "semua masalah tidak ada yang ditutupi", atau "dilarang keras menggebet gebetan temen". Rules itu disetujui oleh seluruh anggota grup dan dijalani bersama dan dibentuk untuk kebahagiaan bersama. Tujuannya biar semua semakin bersatu, solid, dan lainnya. Rules itu dibuat atas dasar pemikiran pendek yang biasanya dirancang saat sedang bersenang-senang. Trus nanti pusing sendiri ketika salah satu anggota grup melanggar. Disini saya ingin bilang bahwa saya tidak setuju dengan adanya peraturan.
Pertemanan kok dibikin kayak sekolah. Dipenuhi berbagai peraturan yang kalau dilanggar bisa mengakibatkan perdebatan panjang. Pertemanan itu apa adanya. Tahu tidak? Pertemanan dengan berbagai rules itu sebenarnya cupu. Segitu takutnya pertemanan itu pecah sehingga harus dibentuk rules. Pertemanan itu ikhlas. Semua masih merupakan individu yang memiliki privasi sendiri-sendiri. Persahabatan itu tidak perlu dibatasi. Karena jalan hidup tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.
Contohnya, "dilarang keras menggebet gebetan teman dari kelompok kita". Misalnya ini adalah salah satu rules dari grup cowo. Satrio dan Rama berantem karena Satrio suka sama Asha tapi ditikung Rama karena Asha sukanya sama Rama dan Rama juga suka sama Asha. Segitu egoisnya rules itu sehingga Asha yang jadi korban. Asha bisa bahagia namun ditolak karena rules cupu. Satrio, seakan menutup mata untuk lihat sahabatnya sendiri bahagia. Cinta dan pertemanan memang memusingkan. Tapi coba kita redam ego sendiri dan lihat prospek kedepan. Lihat teman bahagia itu membuat kita bahagia juga kan? Satrio yang sakit hati tidak lagi dapat berpikir panjang, sang emosi lah yang berperan dengan menghujat habis-habisan sahabatnya sendiri dan membuat lupa untuk berfikir bahwa Asha itu bukan mainan yang dengan mudahnya disingkirkan begitu saja. Lantas, karena Satrio yang terlebih dahulu suka pada Asha jadi Asha ngga boleh untuk suka sama Rama? Lalu pemecahan masalahnya gimana? Rama yang level otak rendahnya sejajar dengan Satrio pun berkata: "Demi menjaga ikatan pertemanan saya dan Satrio, mari bersama lupakan saja masalah Asha, dengan begitu perselisihan selesai dan satu grup pun senang". Mungkin diantara kalian ada yang lupa, maka disini saya ingatkan kembali, Asha juga punya perasaan. Yes. Segitu egoisnya rules pertemanan sehingga pihak ketiga yang disakiti. Segitu pentingnya ego manusia. Segitu childish nya rules pertemanan. Segitu bodoh orang-orang yang menjadi anggotanya.
Saya menulis ini karena saya sedang menjelma menjadi Asha. Terimakasih banyak. Pada kalian berdua.
August 7, 2010
Orang-Orang Di Balik Gelar S.Psi
Sekarang ini saya lagi makan mcd dirumah, sendirian. Nunggu waktu wisuda yang masih 2 minggu lagi. Kegiatan, ngga ada. Kecuali nonton dvd dirumah dan pergi keluar. "istirahat pasca skripsi" masih dijadikan alasan mengapa saya masih jobless dan hidup tenang tanpa tujuan. Ngga ada kegiatan tiba2 saya jadi buka-buka foto di files laptop dan menemukan foto2 semasa kuliah dengan "cerita2" yang seru. Kangen. Suka duka yang saya rasakan bersama teman2 kuliah itu pengalaman yang sangat berharga.
Banyak yang saya pelajari dari masa perkuliahan ini.
Pertemanan, kemandirian, sampai pola belajar saya berubah selama perkuliahan.
Banyak banget momen yang seru plus nyebelin yang kalo diinget sekarang jadi sedih. Pengen ngulang lagi.
Belajar nyebrang jalan, ngeborong sepatu murah di Detos, cabut kelas rame2 untuk makan di citos/kemang/bahkan untuk main di dufan, bareng lene pulang ke kos mabok sampe yang jaga tempat kos marah (gue doang sih yang mabok, dia nggak), digosipin pilih2 temen , kerjain tugas rame2 sambil nginep rumah muti (temanya: makan dan curhat), belajar bareng dirumah putul tiap UTS & UAS, dan bbbbbanyak lagi.
Saya punya peer group yang seru. Bukannya maksud nge geng, tapi kan pada dasarnya kita temenan sama orang yang punya kesamaan. Kesamaan kita cuma satu: GILA.
Kita itu punya jokes antar kita doang tapi suka keceplosan kedengeran sama anak2 lain, yang jatohnya kedengerannya jadi ngga enak. Jokes nya itu kita semua anak konglomerat. Orang kaya raya semua. Bayangin aja Uthe itu yang punya Plaza Senayan. Saya punya private jet. Kita semua ngga ngerasain macet karena pake helikopter. Kadang2 kita keluar negeri cuma buat makan trus pulang lagi.
Nah anak2 konglomerat ini adalah: Lene, Uthe, Putul, Rachel, Kiki, Muti, Jawa, Laili, Milka, dan Mita (maaf para konglomerat lain yang ngga kesebut, lupa)
Orang-orang gila ini juga masuk dalam kelompok belajar saya. Suka duka paling kerasa pas pengerjaan tugas KAUP (Konstruksi Alat Ukur Psikologis). Lene dan Putul, duo anak rajin ini lama2 kesel sama kita gara2 mereka mulu yang ngerjain. Muti yang ngga bisa diem akhirnya sampai pada titik klimaks dimana dia mecahin lampu belajar lene karena lari2an dikamar. Saya juga ikut dimarahin karena malah main BB saat yang lain lagi sibuk konsultasi sama dosen.
Pengalaman itu terus terekam dalam ingatan saya. Sekarang, semua udah berakhir. Semua udah harus hidup di jalan masing-masing dengan pekerjaan yang berbeda-beda. Ada yang lanjut S2, kerja jadi shadow teacher, HRD, dan lainnya. Masa kuliah yang main-main itu telah usai. Class dismissed! Inilah orang-orang dibalik gelar S.Psi nya. Bangun pengalaman bersama dengan modal haha-hihi dan sistem belajar hanya untuk UTS & UAS. Kini balik pada kehidupan masing-masing. Mulai merintis karir dengan mempraktekkan segala ilmu yang telah diserap bersama.
Thanks a lot untuk kalian semua. serta semua anggota fakultas Psikologi dari anak 2006, dosen, satpam dan lainnya. Kita semua pada akhirnya mendapat gelar S.Psi. Namun pengalaman proses meraih gelar itulah yang harus diingat, karena pelajaran berharga bukan didapat dari buku, namun dari pengalaman hidup, dan 4 tahun terakhir ini salah satunya.
Kita semua masih gampang untuk ketemu, namun pengalaman selama kuliah itu tidak akan bisa diulang. Jangan lupa, suatu saat nanti, kita semua akan menjadi konglomerat, persis seperti mimpi kita. AMIN.
Best regards,
Keinda Fauri
Subscribe to:
Posts (Atom)






