September 6, 2018

Selingkuh Itu Salah Siapa?



Robert Sternberg merupakan pakar Psikologi favorit saya. Dari 4 tahun kuliah Psikologi, teori dia paling nyantol di otak dan yang paling saya benarkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia membuat teori bahwa cinta yang sempurna dapat dipahami melalui tiga komponen membentuk metafora segitiga yang saling berinteraksi satu sama lain, disebut sebagai Triangular Theory of Love. Ketiga komponen ini ialah Intimacy (Keintiman) yang meliputi perasaan keterikatan dan kedekatan, Passion (Gairah) yang meliputi daya tarik seksual, dan Commitment (Komitmen) yang meliputi kesetiaan. Masing-masing dalam komponen ini bisa berdiri sendiri, namun untuk menghasilkan Consummate Love diperlukan kombinasi dari ketiga nya.

Ketiga komponen diatas merupakan gambaran hubungan cinta yang ideal, namun bukan tandanya tanpa ketiga nya tidak bisa dijalankan. Banyak pasangan yang tidak memiliki ketiga komponen diatas sekaligus, ada yang hanya dua, atau bahkan satu. Pernahkah anda mendengar pasangan yang sudah bertahun-tahun lamanya tetap setia tanpa berhubungan intim? Hubungan yang dijalani tanpa komponen Passion disebut hubungan Companionate Love, yaitu cinta yang idealnya dirasakan kepada orang tua atau anak.  Ada juga pasangan yang hanya memiliki komponen Commitment saja, tanpa adanya Intimacy & Passion, biasa ditemui pada hubungan suami-istri yang sudah tidak lagi merasa cocok namun dipertahankan hanya demi anak, disebut sebagai Empty Love. Hubungan tidak ideal tetap bisa dijalankan. Namun kekurangan dalam salah satu komponen ini yang menggiring banyaknya hubungan diam-diam dibelakang pasangan atau yang sering kita sebut sebagai selingkuh. 

Banyak contoh yang kita temui dalam kehidupan sehari hari mengenai perselingkuhan hanya pada wilayah komponen Passion saja, tidak ada Intimacy dan Commitment apapun, disebut sebagai Infatuated Love. Kasarnya, selingkuh yang dilakukan hanya untuk berhubungan intim karena merasa pasangan tidak memberikan kepuasan birahi yang sesuai. Ada juga perselingkuhan yang dilakukan demi mendapatkan Intimacy, tanpa hubungan intim sekalipun karena ia merasa tidak bisa curhat isi hati nya kepada pasangannya sendiri. Selingkuh memang salah, namun dari pandangan pribadi, walaupun saya tidak membenarkan perbuatan selingkuh, tapi tidak pula sepenuhnya menyalahkan orang yang selingkuh. Saya percaya dalam menjalani suatu hubungan, semua ada sebab-akibat. Setiap pasangan wajib untuk berusaha memberikan tiga komponen diatas secara lengkap dan dorong diri sendiri dan pasangan untuk menjaga nya agar tetap utuh. Saya sebutkan sekali lagi; Intimacy, Passion, dan Commitment. Apabila dalam menjalani-nya dirasa satu atau dua komponen telah hilang dan susah untuk menghidupkan-nya lagi, berarti ini saat nya interospeksi kembali mengenai hubungan yang telah dijalani. Disaat inilah selingkuh menjadi hal yang rentan dilakukan karena perbuatan selingkuh kecil kemungkinannya muncul disaat ia mendapatkan tiga komponen dari pasangannya secara lengkap.

Saya ingin memberikan pandangan kepada kalian yang disakiti pasangan karena selingkuh. Sebelum menghakimi dia yang telah menyakiti kita, coba introspeksi diri sendiri terlebih dahulu. Sudah kah kita memberikan yang terbaik? Ketiga komponen lengkap, bukan hanya dua, bukan hanya satu. Saya percaya dalam hubungan serius, pasangan akan bahagia disamping kita bila kita terus memberikan, karena alasan selingkuh itu sebenarnya simpel; Mereka hanya membutuhkan komponen yang hilang, komponen yang lupa diberikan oleh kita. Mungkin kita sudah merasa maksimal, namun pasangan kita yang merasakan. Sama halnya apabila kita yang selingkuh, secara tidak sadar sebenarnya ada komponen yang tidak diberikan oleh pasangan sehingga kita mencari komponen kosong tersebut pada orang lain.

Pada intinya, harus saling interospeksi di saat salah satu diantara kalian selingkuh. Jangan juga kita salahkan pihak ketiga, karena mereka tidak akan pernah ada bila suatu hubungan dari kedua pihak baik-baik saja. Di selingkuhin itu sakit. Jadi sebelum terjadi pada kita, yuk bersama jaga ketiga komponen ini agar selalu ada.

Sebelum menyesal :)


March 19, 2018

Veneer Gigi & Simbol Sosial





Uniknya korban sosial pada masyarakat Jakarta dalam mendapatkan pengakuan sebagai status sosial atas kembali menjadi daya tarik saya untuk posting. Saya awali dengan pengertian asal muasal sampai ada nya sebutan korban sosial. Di semua Negara, status sosial dibentuk oleh masyarakatnya sendiri mengenai kedudukan sosial seseorang. Ada dua hal yang menjadi kriteria nya, yaitu masuk berdasarkan keturunan, misalnya lahir dari keluarga berada yang secara alami menjadikannya di kelas sosial atas dan atas dasar usaha pribadi, misalnya dari keluarga sederhana yang berkat kepintarannya masuk pada kelas sosial atas karena menjadi seorang pengusaha sukses. Status sosial ini kemudian memiliki penggolongan disebut stratifikasi sosial, yang memudahkan individu untuk menempatkan diri sesuai kategori nya atau mengejar kategori tertentu sesuai yang diinginkan. Dari semua, status sosial atas ialah yang paling dikejar, karena golongan ini lebih dipandang dan dihargai oleh masyarakat. Karena insting manusia ialah terus berkembang, hal yang wajar untuk individu terdorong dalam menggapai status yang lebih tinggi. Sayangnya, banyak yang menduga masuk pada status sosial yang lebih tinggi itu mudah. Sesungguhnya individu dari kelas sosial bawah yang maksa menjadi kelas sosial menengah akan dipandang sebelah mata, begitu pun juga individu dari kelas sosial menengah yang maksa menjadi kelas sosial atas, dijadikan bual-bualan oleh individu-individu dari kelas sosial atas itu sendiri. Masing-masing status sosial yang terdiri dari; atas, menengah dan bawah memiliki simbol yang menjadi kriteria. Hal utama nya ialah harta benda (mis. tempat tinggal, kendaraan pribadi, pakaian) dan gaya hidup (mis. olahraga kegemaran, cara bersosialisasi). Simbol ini yang diikuti seseorang dalam mendapatkan gelar status sosial yang diinginkan. Simbol yang biasanya diikuti ialah yang dapat terlihat oleh kasat mata. Jadi bukan pada besarnya tabungan, namun pada apa yang terlihat pada masyarakat, mereka-mereka ini disebut dengan korban sosial. Misalnya, salah satu simbol wanita kelas sosial atas ialah pake tas Chanel. Untuk membeli satu buah tas merek ini dibutuhkan uang puluhan juta. Hasrat ingin memiliki untuk sang korban sosial jauh lebih tinggi dibanding kemampuannya untuk membeli. Pemaksaan akhirnya terjadi dengan mendewakan pengrajin tas dari Cina karena mampu membuat tiruan nya dengan harga ¼ dari harga asli. Korban sosial semakin marak dan semakin tidak terkendali. Fenomena ini sudah lama terjadi dengan perkembangan simbol sosial yang semakin banyak. Kini bukan lagi hanya tas, bukan lagi merek mobil, bukan lagi tempat hangout. Yang terbaru ialah melakukan veneer gigi dengan pilihan warna lebih putih dari putihnya tembok rumah Inul Daratista di Pondok Indah.

Perkembangan simbol sosial semakin mudah diikuti dengan maraknya era digital yang bisa diakses oleh siapa saja. Untuk fenomena veneer warna seputih salju ini dapat dibilang berasal dari para influencer di Instagram. Sebenarnya veneer bukan hal yang baru dalam dunia kedokteran gigi. Pertama kali dibuat oleh dokter gigi Charles Pincus tahun 1928 untuk keperluan shoot film di California. Jadi dari awal memang dibuat untuk kecantikan, karena gigi yang bentuknya bagus, otomatis akan upgrade keseluruhan muka jadi lebih oke. Apalagi ini instant dan layaknya operasi plastik, bisa mengubah bentuk gigi jadi lebih sempurna. Nah, di Indonesia baru terkenal sekarang. Mungkin referensi nya yang salah, kurang informasi atau dokter gigi yang tidak memberikan konsultasi dengan benar, banyak orang melakukan tindakan veneer dengan memilih warna dan bentuk yang gak lazim. Either warna nya yang terlalu putih atau bentuk gigi nya yang gak cocok dengan bentuk muka. Berbeda dengan orang yang melakukan veneer natural look. Bagus banget hasilnya, sesuai dengan tujuan veneer itu sendiri. Sayangnya yang lagi marak di Jakarta kali ini bukan untuk menyempurnakan wajah, namun untuk pamer. HARUS BANGET giginya keliatan di veneer, mahal soalnya ya kan. Makin berkilau, makin keliatan jadi orang kaya. Logika melenceng nya kalau gak putih banget gak ada yang sadar kalo di veneer. Jadi ini lebih pada gengsi. Warna super duper white yang gak manusiawi dan bentuk gigi menjadi extra panjang dengan tambahan gigi kelinci menjadi yang paling favorit. Saya sih jujur liatnya pusing. Soalnya kalo lagi ngomong yang saya liatin ialah gigi nya, seharusnya eye contact kan, tapi jadi ke-distract. Belum lagi kalo foto bareng pake kamera HP, muka kita bisa gak keliatan karena flash nya mantul ke gigi sangking shining nya.  

Mengubah struktur muka agar lebih baik itu wajar. Namun sama hal nya dengan kasus operasi plastik, perubahan yang terlalu signifikan akan membuat muka jadi aneh. Contohnya operasi hidung. Ada orang yang jadi keliatan baguuus banget hidungnya walaupun kita tahu kalau itu operasi karena menyatu dengan struktur muka nya. Terbalik dengan yang hidung nya diubah dengan sangat signifikan, akan membuat keluar dari struktur muka normal. Untuk veneer, menurut saya akan bagus sekali apabila dibuat natural, sayang saja veneer malah dijadikan ajang gengsi nasional. Lihat deh aktor/aktris di hollywood. Hampir semua nya veneer, kayaknya udah sepaket saat make over di awal karirnya. Tapi karena veneer nya bagus, kita sebagai penonton fokus nya ke muka, bukan ke gigi. Terganggu loh. Liatnya bikin ganggu beneran. Muka yang cantik dan ganteng itu dilihat dari pancaran mata nya, bukan pancaran gigi. Situ mau orang ngobrol fokusnya ke gigi? Apapun yang berlebihan akan terlihat aneh. Jadi untuk kalian yang ingin melakukan tindakan veneer gigi, pilihlah yang natural look. Untuk kalian yang tertekan untuk bisa dipandang sebagai kelas sosial atas, jangan dipaksa ikutin fenomena punya gigi putih palsu, justru itu yang keliatan maksa. Juga untuk yang memang sudah punya uang banyak, konsultasi lah dengan dokter gigi yang benar. 

Jangan mau lah kau jadi lenong. 



January 12, 2017

Menggapai

Ternyata tidak mudah untuk didaki.

Rintangan yang ada sebetulnya merupakan sebuah irama, terus bernyanyi di lagu yang sama.
Sudah beberapa kali rintangan datang, namun hampir semua tidak bisa dihindari.
Ada masanya irama itu bisa diikuti, namun didominasikan oleh lengah.
Lagu nya masih terdengar abstrak, padahal sudah cukup lama saya mendaki.
Tenaga yang tersisa terus terkuras, nafas yang dihempas hampir habis.
Apakah memang saya tidak pantas?

Mengapa puncak yang terlihat sudah dekat, kini kembali menjauh?
Angin yang semula meniup sepoi-sepoi berubah berhembus kencang seperti mengusir?
Rumput yang semula hijau kini menjadi lumpur kena hujan, mengunci kaki maju.
Semakin keatas kerikil pun semakin banyak, suara nya yang berhentakan dengan sepatu seperti bersenandung menikmati langkah yang tak bisa berpijak.

Semakin lama, irama ini seperti membentuk lagu baru.
Mungkin ia terlalu gelisah karena merasa saya tidak mampu.
Terlalu agresif seakan meminta saya untuk kembali ke bawah.
Hati ini tidak terima.
Diri ini menolak.

Susah untuk terima karena perjalanan ini sudah panjang.
Diantara alam semesta yang marah, saya mencoba berdiri diam menunggu harapan.
Saya pelajari buku panduan yang dipegang, mencoba kembali untuk mengerti.
Meminta toleransi.
Menunggu jawaban.
Betulkah saya harus putar balik ke belakang?
Apakah betul saya tidak lagi diberikan kesempatan?

Semoga suara kecil ini terdengar.
"Saya tidak mau pulang"



"Tidak mau pulang".

July 19, 2016

Ini Baru Self-Centered


Beberapa waktu lalu, saya sedang duduk sendirian sambil sruput kopi di salah satu restoran. Sebelah saya persis duduklah dua wanita yang sedang girl-talk session. Salah satu diantara mereka sedang mengeluh bosennya berumah tangga karena suami nya ternyata jauh dari yang diharapkan dan menyesal telah menikah cepat. Dia pun berandai apabila belum menikah, pasti hal-hal yang ingin di-explore tentu sudah terpenuhi semua. Teman satunya lalu menimpali bahwa orang yang sudah menikah diumurnya sekarang sangatlah beruntung karena gak merasakan susahnya menemukan calon suami. Kala itu hanya bisa diam-diam sok cuek padahal nguping setiap percakapan mereka sedetail-detailnya. Kondisi hidup mereka ini sangat bertolak belakang. Apa yang didapatkan bukan merupakan apa yang diinginkan, ibaratnya rumput tetangga selalu lebih hijau. Sebetulnya percakapan seperti ini tidak hanya sekali saya dengar. Di lingkungan saya pun ada yang seperti mereka. Mengeluh mengenai suatu keinginan yang tidak dimiliki kepada orang yang sebenarnya menginginkan apa yang ia miliki. Pembicaraan ini bisa mengalir dimana saja. Entah kepada peer group sendiri, atau hanya sebagai pembukaan percakapan dengan orang yang baru dikenal atau pun berupa postingan di social media

Pada akun Path contoh nyatanya, saya memiliki teman yang terus mengeluh mengenai kehamilannya. Dimulai dari cerita betapa menyesalnya dia langsung hamil saat baru nikah, ngedumel "kok gini amat sih hamil gak enak bener", sampai celotehan "Ya ampun kangen minum alkohol". Padahal, saya tahu betul bahwa friend common di Path dia itu ada yang sedang struggling untuk bisa hamil. Temannya sendiri. Ibarat apabila kehamilan itu bisa dibeli, pasti berapa pun harganya akan dibayar. Belum lagi masih dalam friend common Path yang sama, ada temannya yang pernah mengalami keguguran berkali-kali. Betapa inginnya mereka bisa dijuluki "bumil", betapa susahnya untuk bisa diposisi dia. Sedangkan yang beneran hamil kerjaannya ngeluh, ngeluh dan mengeluh. 

Kita sebagai manusia ditakdirkan untuk merasa tidak pernah sempurna, makanya sering mengeluh dan terus merasa kurang. Memang tidak salah, karena gimana pun juga kita di setting untuk terus mengembangkan diri, namun kepada siapa kita mengeluh yang terkadang tidak tepat. 

Bercerita keluhan hidup atau "curhat" paling sering dilakukan pada Peer group sendiri, karena peer ini sudah menjadi kelompok yang sudah dipercaya sebagai wadah keluarin uneg-uneg. Namun walaupun maksud kita hanya ingin curhat, alangkah baiknya tetap melihat kondisi individu lainnya saat itu. Nah, ini yang saya lihat kepada dua wanita yang saya jelaskan diatas. Ia mengeluh mengenai kehidupan pernikahan kepada teman yang sangat ingin menikah. Dimana rasa empati nya ya? Bukan hanya dalam bentuk keluhan saja yang terkadang kita melupakan pentingnya memberikan empati kepada orang lain, namun juga masukan yang diberikan hanya atas dasar pengalaman pribadi. Misalnya: "Udah deh buruan nikah jangan kebanyakan mikir. Kayak gue aja nekat tapi malah happy", atau "Jangan punya anak buru-buru deh, ribet hidup lo nanti", atau juga "Jangan kerja di perusahaan kecil, percaya bakalan susah naik jabatan". Menjadi guru & merasa lebih expert dari orang lain itu gak bagus loh. Niat nya sih baik, agar orang ini merasakan bahagia seperti yang kita rasakan atau terhindar dari masalah yang kita hadapi. Namun, kita gak akan pernah tahu apabila orang itu jadi nikah dengan pasangannya karena mendengarkan masukan kita, eh jalan beberapa bulan kemudian cerai karena sebenernya memang gak cocok. Kita juga gak akan pernah tau apabila dia nanti punya anak ternyata sama sekali gak merasakan ribetnya hidup seperti yang kita hadapi. Bahkan, kita juga gak akan pernah tau kalau orang itu ternyata cepat mendapatkan promosi di kantornya, jadi dia gak apes seperti kondisi karir kita. 

Saya tentu nya juga masih belajar untuk bisa bersikap wise agar masukan yang diberikan bukan semata dari pandangan pribadi namun dengan melihat dari kondisi dirinya. Permasalahan yang sama antara satu orang dan orang lainnya cara penyelesaiannya tidak bisa di sama ratakan sih. Harus dilihat dari pribadi dan kondisi masing-masing. Begitu juga terhadap kepada siapa kita akan berbicara. Jangan sampai saat ia lagi down, malah bercerita mengenai keluhan yang sebenarnya tidak ada apa-apa nya dengan masalah yang ia hadapi, atau mengeluh mengenai kerjaan kepada temannya yang sedang jadi pengangguran karena belum mendapatkan pekerjaan.

Semakin banyak saya melihat dan mendengar orang mengeluh kepada orang yang tidak tepat. Semakin jelas bahwa jarang sekali kita bisa menghargai apa yang telah diberikan dan cenderung terlalu fokus pada apa yang tidak dimiliki. Padahal, keluhan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita ini bisa jadi merupakan keinginan utama ataupun mimpi seseorang yang ia kejar mati-matian.



December 31, 2015

It's the last day of the year!



Saya ialah tipe orang yang sangat suka menikmati hari-hari penting versi mainstream, seperti tahun baru, valentine, halloween, christmas dan lainnya. Pada saat itu, orang-orang merayakannya dengan tujuan yang sama, akhirnya membuat moment yang berbeda dari hari biasa. Contohnya, Christmas dinner bersama The Yahyas (keluarga dari mama) ialah my favorite dinner of the year. Kami sebetulnya sering sekali kumpul bersama, tapi dinner yang ini berbeda dari dinner-dinner lainnya. Christmas tree, lagu natal yang dipasang, menu roast beef yang hanya ada setahun sekali, hingga bagi-bagi kado for the kids, every details membuat suasana menjadi sangat homey. Berkat film-film christmas yang identik dengan liburan dan tanggal nya yang jatuh 6 hari sebelum tahun baru membuat Christmas tidak lagi dirayakan hanya oleh agama nya, namun sudah masuk pada lifestyle di seluruh dunia. Saat Halloween pun seperti itu, ambiance nya seru banget karena sudah menjadi lifestyle untuk merayakannya dengan mengenakan kostum semaksimal mungkin. Gak ada hari lain selain hari itu yang bisa mengenakan kostum super niat tanpa diliat aneh secara berjamaah. Nah, pada saat tahun baru, suasana nya itu all-out. Tagline "A new year means a new for everything" sepertinya banyak dijalankan oleh orang-orang.  Either it's a new hope, new resolution, new dream, or other things. Soalnya menurut saya, banyak orang yang mempercayai bahwa new year is like a blank book. Jadi semua orang yang merayakannya otomatis happy dan lebih friendly pada saat itu. Saat new year ini pula banyak orang yang membuat resolusi untuk setahun kedepan, termasuk saya. Maka itu di hari terakhir sebelum masuk  tahun 2016, ingin saya membawa anda flashback tentang apa saja yang saya alami di tahun ini

***

Dari tahun ke tahun saya selalu merayakan NYE di tempat yang berbeda-beda, merayakan nya juga dengan tim yang berbeda-beda. Tapi khusus tahun 2015, New Year Count Down dilewati dengan nonton TV sendirian. Awalnya itu saya minta untuk diopname sehari supaya panas nya turun, karena 2 hari kemudian mau liburan bareng teman-teman yang lain, tapi apa daya besok nya dong malah divonis demam berdarah. Jadilah homses di rumah sakit selama 7 hari. Jadilah saya cuma bisa liat fireworks di seluruh negara dari layar TV. Apes nya hari-hari pertama tahun 2015 dan gagal nya liburan bareng 10 teman-teman ke Hongkong untuk new year memotivasi saya untuk membuat sebuah resolusi. Resolusi nya ialah bisa menikmati hasil jerih payah sendiri dengan foya-foya, dengan kata lain pembukaan awal tahun yang ngeselin harus dibalas dengan kesenangan selama setahun kedepan. Resolusi nya gak bagus sih sebenernya, but yeah, sedih loh rasanya saat harus face the fact bahwa hampir seluruh teman dekat liburan bareng tanpa saya. It still hurt though, karena liburan ini sudah direncanakan dari jauh hari dan kapan lagi bisa kumpul ke luar negeri bareng dengan segitu banyak nya orang? Apalagi saya yang tiap hari search apartment di airbnb, niat ngajak meeting untuk nentuin apartment mana yang mau diambil, sampai ngobrol telpon-telponan sama pemilik apartment nya untuk nentuin tempat meeting point disana. Emang udah apes aja sih masuk Rumah Sakit H-2 sebelum berangkat. Jadilah di tahun ini saya khusus kan sebagai tahun untuk bersenang-senang. Liburan dan shopping. Buset gak pernah sesering ini pergi liburan dalam setahun dan gak pernah saya belanja seboros ini. Ada masa nya selama 1 bulan penuh weekend gak di jakarta. Berangkat jumat after office hour, pulang minggu last flight. Sampe receptionist kantor udah biasa kalo saya titipin koper di hari jumat. "Brangkat kemana lagi mba?", selalu gitu pertanyaannya.

Berkat resolusi ini saya jadi kenal dengan orang-orang baru dan punya lingkungan baru. Pokoknya saya lalui dengan having fun sebisa mungkin. Gong nya sih saat pertengahan tahun ke Europe. Yes. Pertama kali nya saya menginjakkan kaki disana. Banyak dari kalian sudah biasa bolak-balik Europe or Amrik, tapi untuk saya yang harus nabung liburan pure dari uang sendiri, it was a dream come true. Sesuai dengan resolusi foya-foya, dari Januari setiap bulan setengah gajian di sisihkan untuk langsung tukar ke Euro, karena saya ingin menikmati liburan disana dengan enak-enakan. Gak mau yang udah sampe sana tapi kere. Jadi mau belanja apa aja terserah, mau makan mahal juga ayo aja.  Boleh lah sekali-kali nya saya belanja or pesen makan tanpa mikir harga. Mumpung belum ada yang harus ditanggung, masih lajang bisa berbuat apa aja. Saya mikirnya sih "kapan lagi kalo gak sekarang?". Resolusi ini pula yang membuat saya sedikit abnormal, berasa duit gak berseri. Saya rela tiap hari bawa bekal ke kantor demi bisa liburan keluar Jakarta saat weekend. Pokoknya beneran dilewati maksimal untuk liburan dan belanja. That's it.

Nah, hari ke-365 di tahun ini saya melakukan evaluasi diri. Flashback kembali tentang apa saja yang sudah saya lakukan. Beneran loh setelah dipikir-pikir resolusi dijalani dengan niat, hajar terus tanpa jeda. Kalau inget jumlah uang yang dikeluarkan memang jadi ada rasa penyesalan. Tapi saat mengingat memories yang dihasilkan dari perjalanan resolusi ini memang worth it untuk dilalui. Boleh lah di masa dewasa muda sekali aja selama setahun full hambur-hamburin duit. Walaupun diperjalanan saya merasa sedikit diluar batas, apalagi inner circle saya sampai merasa saya condong berubah menjadi lebih acuh, lebih seenaknya, dan seru dengan dunia sendiri. Tapi gimana pun juga, that's not my "real-me", ini hanya proses perjalanan sebuah resolusi yang dibuat atas dasar balas dendam. Di tahun 2016, resolusi nya tentu berbeda dengan tahun ini, karena resolusi berikutnya dibuat tanpa dibalut emosi.

Overall, dengan resolusi aneh saya yang ternyata bisa tercapai, tahun 2015 menjadi tahun terbaik saya hingga saat ini. Tahun ini dilalui dengan perasaan puas yang amat sangat. Pengalaman liburan dan belanja seenak jidat gak akan bisa saya lupakan. Pelajaran pentingnya pertemanan yang saya lalui akibat obsesi sebuah resolusi merupakan sepenuhnya proses pendewasaan. Ditambah tahun ini diakhiri dengan something that makes my heart smile. Saya bingung sih jelasin nya karena susah untuk deskripsikan, but yes, that is you Tara.